Cerpeng (Cerita Bopeng) PART I
We listen and we don't judge.
"Di era yang glowing ini ternyata tidak semua orang dapat merasakannya. Namun jangan sampai menguras rasa syukurmu atas kuilmu. Yes, your body is your temple. Apapun yang pernah terjadi di kuilmu, tugasmu adalah merawatnya."
•
•
•
•
Yup, bopeng!
Bentar dulu.. Aku disini bukan ngejulidin atau memojokkan siapapun yg memiliki bopeng di wajahnya. Karena aku juga punya bopeng lho. Harus banget pamerin bopeng haha.
"Kok bisa mukanya sampe bopengan gitu?"
"Jerawatnya suka dipencet-pencet sih"
"Ih gue tuh geregetan lho sama mukamu, pengen di asah sampe mulus!"
"Itu muka dah kayak permukaan bulan"
"Kalo kamu gak bopengan pasti cantik"
Gaiss, sabar dulu. Aku paham setelah baca kalimat tersebut awto naik darah.
Haha oke oke, jadi di postingan ini aku mau sharing kenapa aku bisa hidup berdampingan dengan bopeng, hihiw.
Masa Pubertas
Katanya masa remaja itu masa yang terindah. Yup, aku yakin semua manusia baik laki-laki dan perempuan sudah pernah mengalaminya. Kita merasakan naik turunnya mood bak rollercoaster dan perubahan pada bagian-bagian tubuh kita.
Di balik masa ini, ada hormon yang memainkan perannya penuh di tubuh manusia. Untuk pertama kalinya aku mengalami datang bulan di umur 11 tahun.
Sebelum berada di umur itu, aku sudah menerapkan pemakaian bedak wajah sebelum berangkat ke sekolah. Aku inget banget kalau sebelum berangkat wajahku masih terlihat mengkilap, mamahku bisa marah dan mengomel.
"Bedakan dulu, biar debu gak langsung masuk ke pori-pori muka" kata mamahku.
Aku paham niat beliau itu baik yaa namanya masih bocil kadang suka ngeyel haha.
Hingga beberapa bulan kemudian aku sebelum berangkat sekolah aku terdiam dan penasaran di depan cermin.
Jerawat, man... they are coming.
Wajahku yang mulus, bersih dan pori-pori yang masih normal seketika tidak akan pernah kembali lagi.
Oh ya, FYI sebelum haid pertama kalinya aku udah pakai bedak Marcks, yang sampai detik ini masih mempertahankan kemasan kuning legendarisnya. Weww.
Terkadang ganti pakai bedak taburnya Venus. Setahu aku kedua brand ini masih satu grup sama Kimia Farma.
Sejujurnya aku gak inget pas SD dibelikan obat jerawat atau nggak sama mamahku π
Tinggal Di Dekat Area Beresiko Tinggi Polusi Udara
Sejujurnya aku love and hate kalau udah bahas rumah yang sudah aku habiskan sejak lahir hingga menginjak kuliah semester 1.
Setiap pagi aku bisa melihat langsung pemandangan hijau di bukit seberang rumah. Aku juga biasa bersepeda keliling komplek sambil mampir ke pantai sebentar untuk menikmati udara yang segar dan tidak semua orang bisa merasakannya. Jarak rumah ke pantai kurang lebih 100 meter.
Katanya dekat dengan pabrik? Yoa, tepatnya di balik bukit yang udah kusebutkan. Di sana juga aku bisa melihat ada cerobong asap yang tinggi. Sebuah pabrik pembangkit listrik yang besar. Aku tinggal di sebuah perumahan dinas pabrik tersebut karena kakekku pernah bekerja disana.
Resiko polusi selama tinggal disana yaitu debu batubara. Partikel debu berwarna hitam.
Saat duduk di bangku SMP, setelah pulang sekolah dan sesampainya di rumah, aku langsung ambil kapas dan Ovale Face Lotion yang Bengkoang terus digosok-gosokin ke wajah.
Tadaaaa.... Kapas yang tadinya putih bersih langsung hitam dan ada sedikit coklat tua juga!
Jarak rumahku ke sekolah termasuk jauh sekitar 17km. Perjalanan yang ditempuh pun gak cuma memakan banyak waktu di jalan tetapi pasrah dengan debu dan asap dari truk dan bus yang melintas di depan mobil angkot yang aku naiki.
Haduh, udah deh awto pasrah dan tutup muka pakai sapu tangan. Sayangnya dulu aku belum mengenal masker sih. Tapi akan sama saja karena bagian dahi justru terbuka haha π
.
Sabun wajah yang aku pakai saat itu Acnes Face Wash. Meskipun di kulitku dia ninggalin rasa ketarik dan kering, tapi kelebihannya adalah aku suka sama wanginya.
Sayangnya kulitku bukannya semakin membaik malah pasukan jerawat makin liar menjajah hingga meninggalkan bekas-bekas.
Insecure dan Berujung Rasa Sok Tahu
Saat itu aku melihat teman-teman di kelas punya jerawat yang gak seliar aku. Paling cuma muncul satu dua dan tiigaa... πΆπ΅ Dan ukuran jerawat yang kecil, gak seperti jerawatku yang berukuran besar hampir mirip bisul.
Karena malu ada jerawat gede di wajah, aku langsung ambil kapas, alkohol 70% dan sendok una. Tak lupa aku cuci muka sebelum eksekusi, merasa semuanya sudah steril namun kenyataannya sangat kurang tepat.
Kupencet jerawat yang ngeselin itu sampai berdarah-darah. Oh ya, hanya jerawat yang besar saja yang kupencet dan juga keluarin komedo.
Wajahku langsung merah-merah gak karuan. Tetapi aku masih santai karena beberapa saat akan kembali normal dengan sendirinya.
Jerawat hempas dari wajah? Masih belum, makin menjadi-jadi.
Hingga suatu ketika rekan kerja mamahku tidak sengaja melihat kondisi wajahku yang penuh jerawat di bagian hidung, dagu dan pipi. Beliau memberi cara membersihkan wajah dari jerawat yaitu dengan merebus daun sirih dan menguapinya ke wajah setiap seminggu sekali.
Eksekusi gak, min? Langsung eksekusi dong. Langkah demi langkah aku ikuti dan masih bandel dengan sendok una. Sebenarnya bukan salah si sendok una tetapi penangananku yang pake gereget dan tanpa berpikir panjang kedepannya.
Jerawat-jerawat yang pernah kupencet kemudian membekas seperti kawah-kawah jatuhnya meteor.
Alergi Susu, BUT wait, what?
Aku suka banget sama susu. Yeah we're living in Milky Way galaxy. Kenapa bisa gak cocok sama susu? πͺ.
Setiap hari aku selalu minum susu 2x sehari. Minum di pagi hari dan di malam hari sebelum tidur. Yup aku merasa baik-baik saja hingga sadar kenapa aku sering mules seperti masuk angin dan muncul jerawat mirip bisul di wajah.
Sekitar 10 tahun yang lalu aku pernah mengikuti salah satu beauty blogger yang rajin banget posting DIY dan sharing pengetahuan kandungan pada produk kecantikan. FYI, dia ini lulusan peternakan dan banyak tahu tentang kimia juga. Di salah satu blog post nya ia pernah membahas kandungan hormon susu dengan kulit yang tidak cocok. Dari sana lah aku merasa, apa bener selama ini alergi susu?
Selain menimbulkan jerawat berukuran besar, berwarna gelap seperti perpaduan merah keunguan dan nyeri dari jerawat pada umumnya. Saat jerawat ini sudah matang terkadang pecah dengan sendirinya. Namun, tidak sampai disitu. Bekasnya langsung membentuk kawah.
Semakin lama semakin bekas-bekas jerawat di wajah terlihat mencolok. Tak jarang orang disekitarku melirik aku. Melirik ke si bopeng di wajah seorang gadis yg penuh tekanan dan rasa minder. Aduh plis deh saat itu pengennya gak minder biar segala urusan lancar.
So, senekat-nekatnya aku dengan jerawat gak selalu dipencet. Yang tidak dipencet pun saat sudah sembuh juga meninggalkan bekas.
Di tahun 2010-an aku hanya mengenal yang namanya perawatan wajah itu bersihin wajah pakai pembersih seadanya dan kapas, cuci muka pakai face wash dan langsung bobo. Selain itu, setiap keluar rumah pakai bedak, pelembab wajah, pelembab bibir dan body lotion, belum mengenal sunscreen wajah.
Kasiannya diriku ini~

Comments
Post a Comment